SNMPTN

Selamat sore!

Sudah lama saya tidak posting di tumblr. Lamanya jarak antara posting saya yang sebelumnya dengan posting ini akan saya jelaskan dalam posting ini.

Oke, langsung ke inti cerita. Setelah menyelesaikan Ujian Nasional yang kemarin-kemarin dan telah dinyatakan lulus, saya teriak-teriak di tengah jalan raya menghadapi tantangan yang lebih berat. SNMPTN Tertulis. Mengapa lebih berat? Karena fungsi UN dengan SNMPTN yang lumayan berbeda. Jika soal UN dirancang supaya anak-anak SMA lulus SMA, soal SNMPTN dirancang supaya sebagian dari seluruh anak-anak SMA saja yang dapat masuk PTN.

Jadi, ceritanya, saya dan empat orang teman saya, Fariz, Putu, Khoir, dan Mukhsin, yang tidak lulus SNMPTN Undangan, tidak patah semangat. Kami belajar dan terus belajar demi SNMPTN Tertulis. Setiap hari kami pergi ke tempat bimbingan belajar untuk berduka dan menangis tersedu-sedu belajar. Rasanya seperti sekolah, tapi lebih santai.

Mendengar kabar bahwa anda lulus SNMPTN Undangan tentu sangat menggembirakan. Mendengar kabar bahwa anda tidak lulus SNMPTN Undangan tentu mengecewakan. Saya yang tidak lulus SNMPTN Undangan pun sempat down. Sempat kecewa, kecewa sekali. Namun pada akhirnya, saya berpikir, semasa SMA saya merupakan siswa yang malas. Alhasil, laporan hasil belajar saya, yang merupakan salah satu kriteria penerimaan SNMPTN Undangan, tidak terlalu bagus. Untuk apa menangisi hal yang tidak saya usahakan secara maksimal, pikir saya.

Akhirnya saya belajar sungguh-sungguh demi SNMPTN yang selanjutnya, SNMPTN Tertulis. Ditemani empat orang teman yang senasib, kami mencoba memperbaiki nasib. Kami belajar gila-gilaan setiap hari. Terdengar bohong ya? Oke, kami belajar setiap hari. Di tempat bimbingan belajar, kami mempelajari titik-titik lemah SNMPTN. Kami mempelajari trik-trik SNMPTN dan soal-soal SNMPTN tahun-tahun sebelumnya.

Karena perjuangan kami terlalu panjang untuk diceritakan, jadi langsung saya skip saja ke bagian pengumuman. Saat itu saya sedang di rumah sakit karena demam dengue. Pengumuman SNMPTN dilakukan secara online, untuk dapat melihat lulus tidaknya kita dalam SNMPTN Tertulis kali ini, kita harus membuka situs resmi SNMPTN. Karena saya sedang berada di rumah sakit, membuka pengumuman yang seharusnya lebih mudah melalui PC, harus dibuka melalui handphone. Membuka pengumuman lewat handphone agak susah. Kebetulan saat itu sinyal di rumah sakit sedang tidak bagus. Akhirnya saya minta tolong Fariz untuk melihat pengumuman saya. Beberapa menit setelah saya menelepon Fariz, Fariz menelepon kembali.

“Ga! Lu lulus Ngga! SAPPK Ngga!”

Kata-kata syukur langsung keluar dari mulut saya saat itu. Seperti mimpi. Saya, setelah gagal di SNMPTN Undangan, berhasil di SNMPTN Tertulis. Teman-teman seperjuangan saya, yang juga gagal di SNMPTN Undangan, pun berhasil di SNMPTN Tertulis. Putu di Sistem Informasi UI, Fariz dan Khoir di FTTM ITB, Mukhsin di Pendidikan Dokter UNPAD, dan saya di SAPPK ITB. Rasanya seperti lolos dari lubang jarum.

Gagal SNMPTN Undangan, lalu ikut SNMPTN Tertulis tidak sepenuhnya pahit bagi saya. Saya jadi lebih dekat dengan keempat orang teman saya yang senasib tersebut. Saya juga banyak belajar ilmu-ilmu baru. Ikut SNMPTN Tertulis tidak perlu cerdas. Yang penting cermat dan teliti.

Gagal SNMPTN Tertulis bukan akhir dari segalanya. Masih banyak PTN-PTN yang mengadakan jalur mandiri. PTS-PTS juga tidak kalah kualitas dari PTN. Yang penting semangat, tetap optimis, dan teruslah berharap kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hanya Dia-lah yang tahu apa yang terbaik bagi kita semua.